Dramatis! Beginilah Cerita Pengebom B-26 dan Cureng Yang Bikin Gerombolan PKI Lari Kocar-kacir

Pada Juni 1968, Panglima Kodam Brawijaya Mayjen M Jasin menggelar operasi militer dengan sandi Operasi Trisula guna menumpas sisa-sisa pentolan dan pengikut Partai Komunis Indonesia (PKI). Saat itu PKI membuat basis di Blitar Selatan. Yang ditunjuk sebagai pemimpin Operasi Trisula adalah Komandan Brigade Infanteri Lintas Udara 18 pertama Kolonel Inf Witarmin.

Dramatis! Beginilah Cerita Pengebom B-26 dan Cureng Yang Bikin Gerombolan PKI Lari Kocar-kacir

Beberapa pentolan PKI yang ikut bergabung di Blitar Selatan antara lain adalah Sabandi Rewang Parto, mantan anggota Politbiro Comite Central Partai Komunis Indonesia (CC PKI); Oloan Hutapea; dan Sukatno, mantan Ketua Pemuda Rakyat. PKI di Blitar Selatan menggelar Sekolah Perlawanan Rakyat (SPR) dan Kursus Kilat Perang Rakyat (KKPR).

Sebagai operasi gabungan, Operasi Trisula membuat TNI mengerahkan kekuatan besar-besaran untuk memukul para pemberontak. Tentara menyisir kawasan hutan Blitar Selatan guna mencari pemberontak yang bersembunyi di gua-gua. Demikian sebagaimana dilansir dari reportase Sindonews.com, Minggu (24/9/2017).

Diketahui bahwa Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) yang kini adalah TNI Angkatan Udara turut ambil bagian dalam Operasi Trisula. AURI diwakili Komando Wilayah Udara IV dan langsung di bawah pimpinan Panglima Kowilu IV Komodor Udara Suwoto Sukendar.

Operasi Elang

Berdasarkan Surat Perintah Operasi Panglima Kowilu IV No 84/PO/1968 tertanggal 6 Juni 1968, untuk menunjang operasi ini dibentuk suatu task force Operasi Elang dengan tugas utama memberikan bantuan baik di darat maupun dari udara.

Bantuan operasi udara berupa bantuan taktis, yakni bombing, straffing, dan rocketting dari udara, guna mempersempit ruang gerak gerombolan PKI. AURI mengerahkan sejumlah pesawat yakni 2 pesawat pemburu P-51 Mustang, satu pengebom B-26 Invader, dan satu pesawat AT-16 Harvard. Air straffing dengan senjata 12,7 terhadap kubu-kubu lawan pun dilakukan  pada 10 Juli 1968.

“Pelaksanaan operasi penghancuran dilakukan dengan penemPada Juni 1968, Panglima Kodam Brawijaya Mayjen M Jasin menggelar operasi militer dengan sandi Operasi Trisula guna menumpas sisa-sisa pentolan dan pengikut Partai Komunis Indonesia (PKI). Saat itu PKI membuat basis di Blitar Selatan. Yang ditunjuk sebagai pemimpin Operasi Trisula adalah Komandan Brigade Infanteri Lintas Udara 18 pertama Kolonel Inf Witarmin.

Beberapa pentolan PKI yang ikut bergabung di Blitar Selatan antara lain adalah Sabandi Rewang Parto, mantan anggota Politbiro Comite Central Partai Komunis Indonesia (CC PKI); Oloan Hutapea; dan Sukatno, mantan Ketua Pemuda Rakyat. PKI di Blitar Selatan menggelar Sekolah Perlawanan Rakyat (SPR) dan Kursus Kilat Perang Rakyat (KKPR).

Sebagai operasi gabungan, Operasi Trisula membuat TNI mengerahkan kekuatan besar-besaran untuk memukul para pemberontak. Tentara menyisir kawasan hutan Blitar Selatan guna mencari pemberontak yang bersembunyi di gua-gua. Demikian sebagaimana dilansir dari reportase Sindonews.com, Minggu (24/9/2017).

Diketahui bahwa Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) yang kini adalah TNI Angkatan Udara turut ambil bagian dalam Operasi Trisula. AURI diwakili Komando Wilayah Udara IV dan langsung di bawah pimpinan Panglima Kowilu IV Komodor Udara Suwoto Sukendar.

Operasi Elang

Berdasarkan Surat Perintah Operasi Panglima Kowilu IV No 84/PO/1968 tertanggal 6 Juni 1968, untuk menunjang operasi ini dibentuk suatu task force Operasi Elang dengan tugas utama memberikan bantuan baik di darat maupun dari udara.

Bantuan operasi udara berupa bantuan taktis, yakni bombing, straffing, dan rocketting dari udara, guna mempersempit ruang gerak gerombolan PKI. AURI mengerahkan sejumlah pesawat yakni 2 pesawat pemburu P-51 Mustang, satu pengebom B-26 Invader, dan satu pesawat AT-16 Harvard. Air straffing dengan senjata 12,7 terhadap kubu-kubu lawan pun dilakukan  pada 10 Juli 1968.

“Pelaksanaan operasi penghancuran dilakukan dengan penembakan-penembakan roket dan senapan mesin 12,7 mm dari udara terhadap sasaran di areal yang luas di lereng-lereng gunung dengan hutan yang sangat lebat di sepanjang pantai selatan Blitar,” demikian ditulis dalam buku Perjuangan TNI AU.

Anti Gerilya

Pengebom B-26 Invader cukup efektif melakukan penembakan dan pengeboman dari udara. Si Moncong Hiu ini dilengkapi 14 senapan mesin berat (SMB) Browning AN-M3 kaliber 12,7 mm, 8 roket, dan 8 bom seberat 227 kg. Dengan 14 SMB, pengebom B-26 mampu menjalani misi COIN (counter-insurgency) atau anti gerilya.

Tak hanya memberikan bantuan tembakan udara bagi gerakan tempur pasukan darat, B-26  juga melakukan serangan udara langsung untuk membuka jalan dan memberikan perlindungan udara helikopter yang akan mendorong logistik ke posisi pasukan di darat.

Pasalnya, pada Operasi Trisula, AURI juga mengerahkan pesawat angkut militer C-130 B Hercules dan helikopter Mi-4. Tugas utama dari pesawat ini yakni mengadakan pengangkutan udara untuk keperluan pengangkutan pasukan, logistik, survei, dan VIP flight.

Komando Pasukan Gerak Tjepat (Kopasgat) yang kini dikenal sebagai Pasukan Khas TNI AU (Paskhas) juga turut serta dalam Operasi Trisula. Dalam mendukung operasi ini, Korps Baret Jingga tersebut mengerahkan satu kompi pasukannya dari Resimen III dibawah pimpinan LU II Wim Mustamu.

Gerombolan PKI yang semula bersembunyi di hutan-hutan terpaksa meninggalkan persembunyiannya dan bergeser ke arah utara. Di sana sudah siap tim penyapu dari darat menghentikan mereka. Operasi Trisula mencatat 33 tokoh PKI ditembak mati dan 850 orang pengikut PKI ditangkap selama tiga bulan operasi.

Monumen Trisula

Sebagai tanda peringatan penumpasan PKI ini, maka di daerah Bakung, Kabupaten Blitar Selatan yang dijadikan Markas Komando operasi ini didirikan monumen yang diberi nama Monumen Trisula. Diresmikan pada 18 Desember 1972 oleh Deputi Kasad Letjen TNI M Jasin, Monumen Tugu Trisula dibentuk oleh Deputi Kasad Letjen TNI M Jasin.

Yokosuka K5Y atau yang popular disebut Cureng menjadi pesawat TNI AU yang tak bisa dilupakan perannya dalam membantu penumpasan PKI ini. Cureng sendiri merupakan pesawat peninggalan Jepang yang paling banyak dan ditemukan hanya di Pangkalan Udara Maguwo Yogyakarta.

Pesawat Cureng ikut dalam operasi pemberantasan gerombolan PKI yang melarikan diri dari Madiun bertahan di Purwodadi, Blora, Kudus, dan Pati pada 1948. Gerombolan PKI Muso cukup kuat dan telah memiliki posisi bertahan yang strategis di Purwodadi-Cepu.

Gubernur Militer Jenderal Gatot Soebroto meminta Panglima Besar Soedirman agar memerintahkan AURI terus menembaki jalan menuju Purwodadi. Namun, Kepala Staf AURI Marsekal Soeryadarma menuturkan perintah itu tak mungkin dilaksanakan sebab saat itu AURI hanya punya beberapa pesawat tua buatan Jepang dan amunisi juga terbatas.

Satu hal yang utama adalah tak adanya radio komunikasi antara pasukan di darat dengan pilot AURI di udara. Bila tak ada komunikasi, tentu bisa fatal akibatnya. Dikhawatirkan pesawat malah berpotensi menembaki pasukan sendiri. Kemudian AURI memutuskan mengerahkan satu pesawat untuk mengebom Purwodadi.

Dari Pangkalan Udara Maguwo, dikirim pesawat Cureng yang dipiloti Kadet Udara I Aryono dan Kapten Mardanus sebagai observer udara. Inilah pengalaman terbang pertama untuk Mardanus yang sehari-hari menjadi kepala bagian personalia Markas Besar Angkatan Perang.

Sejatinya pesawat tua peninggalan Jepang ini biasanya digunakan sebagai pesawat latih. Namun karena keterbatasan, akhirnya digunakan sebagai bomber. Pesawat bersayap ganda ini masih mampu terbang tiga jam nonstop dan membawa dua bom seberat 50 kg yang dilepaskan secara manual.

Cuaca cerah saat Kadet Aryono lepas landas dan setengah jam kemudian pesawat Cureng sudah mencapai Purwodadi. Aryono terbang rendah, tree top level atau nyaris setinggi pohon, membidik Kompleks Gedung Kabupaten. Dua bom dijatuhkan dan mengenai sasaran. Ledakan keras terdengar.

Berdasarkan hasil laporan intelijen, diketahui bahwa pengemboman tersebut ternyata efektif untuk membuat gerombolan PKI kocar-kacir. Saat bom dijatuhkan, ternyata PKI baru akan mengeksekusi tahanan. Mereka pun bubar saat bom jatuh dan eksekusi batal dilaksanakan.

Merebut Purwodadi

Kerja sama antarangkatan (darat dan udara) dalam pengemboman di Purwodadi ini merupakan salah satu yang pertama dilakukan TNI. Mungkin karena takut ada pengeboman lagi, PKI berangsur-angsur menarik diri dari Purwodadi. Mayor Kosasih dari Brigade I/Siliwangi berhasil merebut Purwodadi pada 5 Oktober 1948.

Pasukan Brigade I/Siliwangi terus bergerak ke arah Utara dan akhirnya bisa membebaskan Kilang Minyak di Cepu pada 8 Oktober. Pertempuran di Cepu merupakan salah satu yang tersulit dan berlangsung sengit. Selama delapan hari, Blok Minyak Cepu berganti tangan empat kali! Awalnya TNI berhasil merebut, tapi PKI merebut lagi, dan terjadi seperti itu berkali-kali. Di siang hari TNI memegang kendali, di malam hari Laskar Minyak yang mengambil alih kendali Cepu.

Tak lama kemudian, seluruh pemberontakan PKI dipadamkan. Muso tertembak dalam pengejaran di Ponorogo pada 31 Oktober 1948. Sedangkan Amir Syarifuddin, Abdul Madjid, Djojoningrat, dan Setiadjid ditangkap hidup-hidup di Purwodadi pada 29 November 1948. Pada 1 Desember 1948, tokoh-tokoh PKI itu dibawa ke Yogyakarta untuk diproses hukum dan pada 20 Desember 1948 tokoh-tokoh PKI ini dihukum mati.

Selama 13 hari pemberontakan PKI berkuasa, diperkirakan hampir 10.000 jiwa korban yang berjatuhan. Pembantaian di Madiun dilakukan PKI sejak 19 September 1948. Ini terjadi setelah Muso mendirikan negara Republik Soviet Indonesia (RSI) yang diproklamirkan pada 18 September 1948.bakan-penembakan roket dan senapan mesin 12,7 mm dari udara terhadap sasaran di areal yang luas di lereng-lereng gunung dengan hutan yang sangat lebat di sepanjang pantai selatan Blitar,” demikian ditulis dalam buku Perjuangan TNI AU.

Anti Gerilya

Pengebom B-26 Invader cukup efektif melakukan penembakan dan pengeboman dari udara. Si Moncong Hiu ini dilengkapi 14 senapan mesin berat (SMB) Browning AN-M3 kaliber 12,7 mm, 8 roket, dan 8 bom seberat 227 kg. Dengan 14 SMB, pengebom B-26 mampu menjalani misi COIN (counter-insurgency) atau anti gerilya.

Tak hanya memberikan bantuan tembakan udara bagi gerakan tempur pasukan darat, B-26  juga melakukan serangan udara langsung untuk membuka jalan dan memberikan perlindungan udara helikopter yang akan mendorong logistik ke posisi pasukan di darat.

Pasalnya, pada Operasi Trisula, AURI juga mengerahkan pesawat angkut militer C-130 B Hercules dan helikopter Mi-4. Tugas utama dari pesawat ini yakni mengadakan pengangkutan udara untuk keperluan pengangkutan pasukan, logistik, survei, dan VIP flight.

Komando Pasukan Gerak Tjepat (Kopasgat) yang kini dikenal sebagai Pasukan Khas TNI AU (Paskhas) juga turut serta dalam Operasi Trisula. Dalam mendukung operasi ini, Korps Baret Jingga tersebut mengerahkan satu kompi pasukannya dari Resimen III dibawah pimpinan LU II Wim Mustamu.

Gerombolan PKI yang semula bersembunyi di hutan-hutan terpaksa meninggalkan persembunyiannya dan bergeser ke arah utara. Di sana sudah siap tim penyapu dari darat menghentikan mereka. Operasi Trisula mencatat 33 tokoh PKI ditembak mati dan 850 orang pengikut PKI ditangkap selama tiga bulan operasi.

Monumen Trisula

Sebagai tanda peringatan penumpasan PKI ini, maka di daerah Bakung, Kabupaten Blitar Selatan yang dijadikan Markas Komando operasi ini didirikan monumen yang diberi nama Monumen Trisula. Diresmikan pada 18 Desember 1972 oleh Deputi Kasad Letjen TNI M Jasin, Monumen Tugu Trisula dibentuk oleh Deputi Kasad Letjen TNI M Jasin.

Yokosuka K5Y atau yang popular disebut Cureng menjadi pesawat TNI AU yang tak bisa dilupakan perannya dalam membantu penumpasan PKI ini. Cureng sendiri merupakan pesawat peninggalan Jepang yang paling banyak dan ditemukan hanya di Pangkalan Udara Maguwo Yogyakarta.

Pesawat Cureng ikut dalam operasi pemberantasan gerombolan PKI yang melarikan diri dari Madiun bertahan di Purwodadi, Blora, Kudus, dan Pati pada 1948. Gerombolan PKI Muso cukup kuat dan telah memiliki posisi bertahan yang strategis di Purwodadi-Cepu.

Gubernur Militer Jenderal Gatot Soebroto meminta Panglima Besar Soedirman agar memerintahkan AURI terus menembaki jalan menuju Purwodadi. Namun, Kepala Staf AURI Marsekal Soeryadarma menuturkan perintah itu tak mungkin dilaksanakan sebab saat itu AURI hanya punya beberapa pesawat tua buatan Jepang dan amunisi juga terbatas.

Satu hal yang utama adalah tak adanya radio komunikasi antara pasukan di darat dengan pilot AURI di udara. Bila tak ada komunikasi, tentu bisa fatal akibatnya. Dikhawatirkan pesawat malah berpotensi menembaki pasukan sendiri. Kemudian AURI memutuskan mengerahkan satu pesawat untuk mengebom Purwodadi.

Dari Pangkalan Udara Maguwo, dikirim pesawat Cureng yang dipiloti Kadet Udara I Aryono dan Kapten Mardanus sebagai observer udara. Inilah pengalaman terbang pertama untuk Mardanus yang sehari-hari menjadi kepala bagian personalia Markas Besar Angkatan Perang.

Sejatinya pesawat tua peninggalan Jepang ini biasanya digunakan sebagai pesawat latih. Namun karena keterbatasan, akhirnya digunakan sebagai bomber. Pesawat bersayap ganda ini masih mampu terbang tiga jam nonstop dan membawa dua bom seberat 50 kg yang dilepaskan secara manual.

Cuaca cerah saat Kadet Aryono lepas landas dan setengah jam kemudian pesawat Cureng sudah mencapai Purwodadi. Aryono terbang rendah, tree top level atau nyaris setinggi pohon, membidik Kompleks Gedung Kabupaten. Dua bom dijatuhkan dan mengenai sasaran. Ledakan keras terdengar.

Berdasarkan hasil laporan intelijen, diketahui bahwa pengemboman tersebut ternyata efektif untuk membuat gerombolan PKI kocar-kacir. Saat bom dijatuhkan, ternyata PKI baru akan mengeksekusi tahanan. Mereka pun bubar saat bom jatuh dan eksekusi batal dilaksanakan.

Merebut Purwodadi

Kerja sama antarangkatan (darat dan udara) dalam pengemboman di Purwodadi ini merupakan salah satu yang pertama dilakukan TNI. Mungkin karena takut ada pengeboman lagi, PKI berangsur-angsur menarik diri dari Purwodadi. Mayor Kosasih dari Brigade I/Siliwangi berhasil merebut Purwodadi pada 5 Oktober 1948.

Pasukan Brigade I/Siliwangi terus bergerak ke arah Utara dan akhirnya bisa membebaskan Kilang Minyak di Cepu pada 8 Oktober. Pertempuran di Cepu merupakan salah satu yang tersulit dan berlangsung sengit. Selama delapan hari, Blok Minyak Cepu berganti tangan empat kali! Awalnya TNI berhasil merebut, tapi PKI merebut lagi, dan terjadi seperti itu berkali-kali. Di siang hari TNI memegang kendali, di malam hari Laskar Minyak yang mengambil alih kendali Cepu.

Tak lama kemudian, seluruh pemberontakan PKI dipadamkan. Muso tertembak dalam pengejaran di Ponorogo pada 31 Oktober 1948. Sedangkan Amir Syarifuddin, Abdul Madjid, Djojoningrat, dan Setiadjid ditangkap hidup-hidup di Purwodadi pada 29 November 1948. Pada 1 Desember 1948, tokoh-tokoh PKI itu dibawa ke Yogyakarta untuk diproses hukum dan pada 20 Desember 1948 tokoh-tokoh PKI ini dihukum mati.

Selama 13 hari pemberontakan PKI berkuasa, diperkirakan hampir 10.000 jiwa korban yang berjatuhan. Pembantaian di Madiun dilakukan PKI sejak 19 September 1948. Ini terjadi setelah Muso mendirikan negara Republik Soviet Indonesia (RSI) yang diproklamirkan pada 18 September 1948.
#Suratkabar
5 Consequences of Driving without Car Insurance Do you own a car? Great! Does your car also have a valid motor insurance cover on it? Owning a car, while earlier classified as being a luxury, has now moved down to being a comfort. In fact, in metros, a car has almost become a necessity due to long-distance commutes. More and more of us are, therefore, buying a car. But are we also buying the mandatory car insurance policy? Every car which is to ply on Indian roads should have a valid car insurance cover, states the Motor Vehicles Act, 1988. When you buy a new car, the choice of buying an insurance policy is, thankfully, taken out of your hands. The on-road price of the car is inclusive of the insurance premium for your car insurance policy. The problems arise when the policy expires after a year. Car insurance plans are usually issued for one year after which they should be renewed. If you do not renew it, you are driving a car without car insurance. If numbers are any indication, a study by New India Assurance revealed that about 70% of vehicles on Indian roads are without insurance. Is your car one among them? If yes, beware. Here are 5 consequences if you drive your car without having a valid Car Insurance policy: Be prepared to pay heavy fines Earlier, the Motor Vehicles Act, 1988 governed the road safety and traffic rules. Recently, the Government passed the Road Transport and Safety Bill 2014 to replace the Motor Vehicles Act, 1988. Among other changes, the Bill penalizes you heavily if you are caught driving without having a valid insurance cover. As per the amendments, you would have to part with a whopping Rs.25, 000 for a light motor vehicles or Rs.75, 000 for other motor vehicles as a fine for driving without insurance. A huge fine, isn’t it? Pay losses for damages caused to third party or property In an accident, if you unintentionally harm any person or surrounding property, you are liable to pay the loss incurred. This is called third party liability. Your car insurance mandatorily covers this third party liability and spares you the loss incurred. In the absence of a valid insurance cover, you would have to bear the losses incurred. If the person dies, your liability would be very high. Read more Is third party car worth buying? Pay losses for own damage While you have to compulsorily pay losses caused to a third party, what about your losses. In an accident even your vehicle suffers damage. The costs of repairs for such damage are borne by your comprehensive car insurance policy. Without insurance, the onus of paying for the repairs is on you. With the high cost associated with the repairs of your car, a financial strain is inevitable. Read more about All you need to know about car insurance Face legal complications Besides the financial loss suffered in an accident which causes damage to a third party and/or self, you would also be entangled in legal complications if your car is found without a valid insurance cover. You would be penalized, get a challan and might even be imprisoned. Loss of No Claim Bonus If your car insurance expires and you do not renew it, besides the penalties and fines, you also lose the No Claim Bonus which you accumulated in your existing policy. Car insurance plans allow a discount in subsequent year’s premiums if there is no claim in any current year. This discount increases every year and saves your premium outgo. If you let your car insurance policy lapse, you lose the accumulated NCB and end up paying a higher premium when the policy is consequently renewed. A car insurance policy is legally mandatory and not having one results in serious consequences (as mentioned above). While a third party liability cover is mandatory, a comprehensive policy is better. The former pays only for the damages caused to any third party but the latter also covers damages incurred by you and your car. The premium for a comprehensive policy is slightly higher because of higher coverage. For instance, the premium payable for a Maruti Ritz car registered in 2012 having a capacity of 1197cc would have a third party premium of Rs.2237 and a comprehensive premium of Rs.4200 (approximately). With a slight increase in the premium you can avail a higher coverage option which covers for your damages too. Since car repairs are expensive, a comprehensive policy makes more sense even if the premiums are a little high. So do not fall a victim to these consequences and buy an insurance policy for your car today.

0 Response to "Dramatis! Beginilah Cerita Pengebom B-26 dan Cureng Yang Bikin Gerombolan PKI Lari Kocar-kacir"

Posting Komentar